Dirjen Perhutanan Sosial Hadiri Dialog Biru Langitku Hijau Bumiku Sistem Perhutanan di Kalbar Nomor Satu se Indonesia

 
PONTIANAK-SAMPAN-Direktur Jendral Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Hidup KLHK Bambang Supriyanto Jumat (14/6) menghadiri dialog bertemakan “Biru Langitku, Hijau Bumiku”. Dalam kesempatan itu, ia sekaligus memaparkan hasil-hasil pembangunan kehutanan yang ada. Disebutkan dia sistem perhutanan di Kalbar nomor satu se Indonesia.
 
Dalam sampaiannya, diangkatnya tema tersebut karena indeks kualitas lingkungan hidup di Indonesia membaik dari 0,63 menjadi 0,66 dan harapannya akhir tahun nanti bisa menjadi 0,68.
 
Diangkatnya tema Biru Langitku, Hijau Bumiku, karena  indeks kualitas lingkungan hidup di Indonesia  membaik dari 0,63 menjadi 0,66 dan harapannya  pada akhir tahun 0,68. “Ada tiga komponen yang menentukan IKLH yaitu air, kualitas udara dan tutupan lahan,” katanya.
 
Kaitan dengan upaya tutupan lahan, melalui program Perhutanan Sosial maka lahan-lahan bekas HPH, HTI yang kondisinya terlantar dan kritis terus diupayakan dilakukan perbaikan. Salah satu caranya dengan mempercayakan pengelolaannya pada rakyat melalui lima skema.
 
Lima skema tersebut adalah, hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat, kemitraan kehutanan dan pengakuan hutan adat.
 
Harapannya dengan pendekatan perhutanan sosial, selain memberikan kepercayaan pada rakyat, mereka secara berkelompok mengelola kawasan dan mempunyai kawasan garapan dengan luas 4-5  hektar maka dengan pendampingan yang bagus  membuat sebuah rencana  kerja dan negara membantu untuk modal dan akses pasar diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di Kalbar dicontohkan dia, Padang Tikar Kubu Raya melalui skema Hutan Desa sudah berjalan dengan pengelolanya masyarakat setempat.
 
Untuk melihat keberhasilan skema perhutanan sosial ada tiga kriteria. Pertama tutupan lahannya meningkat, kedua konflik sosial menurun dan indikator ketiga adalah mampu membangun entreprenuer masyarakat  dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
 
“Kita lihat sistem perhutanan di Kalbar nomor satu di Indonesia, angkanya 383 ribu hektar walaupun targetnya 1,3 juta hektar. Sehingga masih ada tantangan 70 persennya untuk didistribusikan pada masyarakat,” jelasnya.
 
Ia mengajak semua stakeholder terkait mempercepat pendistribusian ini dengan sistem jemput bola dan dipimpin oleh kepala dinas kehutanan sendiri.
 
“Tolong kasi tahu Pak Bupati dan Pak Gubernurnya kalau pemerintah pusat sudah menyediakan data dan masyarakat bisa membuat proposal dan rencana kedepannya mau membuat apa  dan diserahkan pada kami untuk dipercepat izinnya,” tandasnya.(ma)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *