SAMPAN Lounching Kubu Raya mega biodiversity mangrove Indonesia  76,7 Persen Jenis Mangrove se Indonesia Ada di Kubu Raya

 

KUBU RAYA-SAMPAN-Direktur Sampan Kalimantan, Dede Purwansyah mengatakan, dari 202 jenis mangrove se Indonesia, 67 jenis mangrovenya hidup di Kubu Raya. Demikian dikatakan, usai pembukaan lounching Kubu Raya mega biodiversity mangrove Indonesia (28/9). 

“Total ada 202 jenis mangrove, terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis mangrove itu, dari hasil identifikasi kami 67 jenis mangrovenya hidup di Kubu Raya,” terangnya.

Dari 67 itu, lebih dalam Dede menjelaskan, 33 spesies mangrove sejati dan 34 spesies mangrove ikutan. Jumlah ini lebih banyak dibanding 50 spesies mangrove yang dilaporkan sebelumnya oleh UNEP dan IMReD 2004 lalu, yakni 23 spesies mangrove sejati, 8 spesies mangrove ikutan dan 19 spesies ecotone dan terresteriel.

Hasil ekspos hasil identifikasi jenis tumbuhan mangrove yang ada di hutan bentang pesisir Padang Tikar, Kubu Raya kata Dede sebagai upaya guna menggalang dukungan para pihak untuk menjaga serta mengoptimalkan hutan mangrove secara lestari dan berkelanjutan.

“Kawasan pesisir dan laut Indonesia miliki potensi dan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Salah satu potensi utama wilayah pesisir adalah hutan mangrove. Kami delapan bulan ini sudah melakukan identifikasi jenis mangrove di wilayah bentang pesisir Padang Tikar, Kubu Raya. Hasilnya menakjubkan. Ada banyak jenis mangrove ditemukan di sini,” ujarnya.

Dari total keseluruhan jumlah jenis mangrove se Indonesia, kata Dede, hutan mangrove bentang pesisir Padang Tikar merepresentasikan 76,7 persen dari total mangrove sejati di Indonesia, 22 persen dari total mangrove ikutan se Indonesia.

Dia berharap, dari temuan identifikasi yang dilakukan ini, ke depan mangrove Kubu Raya bisa menjadi mega biodiversity di Indonesia yang berguna sebagai laboratorium alam. Hasil yang diharap, semoga bisa terdesiminasikan mangrove bentang pesisir Padang Tikar sebagai kekayaan hayati wilayah pesisir Kalbar.

Kemudian tambahnya, ini juga bisa sebagai pertukaran informasi tentang upaya perlindungan dan pengelolaan mangrove berbasis kearifan lokal di Kalbar yang bisa berguna sebagai bahan rekomendasi kebijakan di Kalbar. 

“Terakhir tentu munculnya para pihak untuk mendorong pengelolaan mangrove yang adil dan berkelanjutan dan berguna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keseimbangan lingkungan,” tutupnya.(ma)

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.