Perempuan Penjaga Hutan Kelola HD Produk Asal Hutan Bakal Tingkatkan Perekonomian Masyarakat

Begitu banyak potensi hutan desa yang di SK kan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Agar semua berjalan senada, peran pemerintah mensuport masyarakat dalam mengelola hutan desa menjadi satu produk dengan bantuan awal begitu diharap. 
 
Mirza Ahmad Muin, Pontianak
 
Melalui skema perhutanan sosial, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berupaya menjadikan masyarakatnya sejahtera dengan memberi hak kelola hutan pada masyarakat melalui SK. Salah satunya Hutan Desa.
 
Di Kabupaten Kubu Raya, khususnya wilayah Bentang Pesisir Padang Tikar, SK Hutan Desa rerata sudah didapat. Harapannya, pasca penetapan SK tersebut, masyarakatnya mampu menjaga hutan sekaligus memproduksi produk dalam hutan bukan kayu bernilai jual. Dengan memiliki satu produk bernilai jual diharap bisa mensejahterakan masyarakatnya.
 
Untuk menuju ke sana, dibutuhkan tindaklanjut pasca penetapan Hutan Desa. Belum lama ini, Sampan Kalimantan mencoba memberi pelatihan bertajuk manajemen ekonomi rumah tangga, koordinasi dan negosiasi untuk kelompok perempuan dan masyarakat dalam menjaga hutan dan lahan.
 
Total ada 24 perwakilan kelompok perempuan ikut dalam kegiatan yang dilaksanakan sejak 8-10 November, di Hotel Kartika. Ke 24 kelompok itu didominasi dari kelompok perempuan di Hutan Desa Bentang Pesisir Padang Tikar, Kubu Raya.
 
Fitriani, salah satu perwakilan kelompok perempuan dari Desa Tasik Malaya, Kubu Raya, memandang pelaksanaan kegiatan ini begitu positif bagi kelompok perempuan. “Ada banyak materi didapat. Seperti cara memanajemen ekonomi rumah tangga untuk kelompok perempuan dalam menjaga hutan,” ucapnya saat pelatihan hari terakhir.
 
Di desanya, kelompok perempuan penjaga hutan sudah terbentuk satu. Ada 10 orang total anggotanya. Selain menjaga hutan, mereka (kelompok perempuan) juga melakukan upaya peningkatan perekonomian dengan pengelolaan hutan desa.
 
Penanamam bibit jengkol, pinang sampai buah naga sudah dilakukan. Hanya saja kata dia belum terlalu berkembang. Kendalanya karena persoalan dana. Mengenai anggaran, dirinya sudah menyampaikan pada kepala desa. Tanggalannya positif. Mudah-mudahan setelah disampaikan, aparat pemerintah mampu menjembatani kelompok perempuan dalam menjaga hutan dan memproduksi satu produk hutan bukan kayunya.
 
Selain tiga jenis tanaman itu, tanaman tebu potensi untuk dikembangkan di Desa Tasik Malaya. “Di sini tebu banyak. Bisa diolah menjadi gula tebu dan gula merah. Hanya saja kami terkendala alat. Jika ada alat kami siap memproduksinya. Mudah-mudahan saja ada bantuan modal sehingga wacana ini tak sebatas ide saja,” ungkapnya.
 
Terkait pelatihan ini, sekembalinya ke desa nanti apa yang didapat akan ditransfer kepada kawan-kawan kelompok perempuan.
 
Di tempat sama, Direktur Sampan Kalimantan, Dede Purwansyah menerangkan, hasil dari kegiatan diharap peserta mampu memahami potensi dan peran perempuan dalam pengelolaan hutan desa (Brainstorming dan Refleksi). Kemudian peserta dapat memahami dan mempraktikkan teknik penyusunan proposal kegiatan pengelolalaan hutan desa berbasiskan potensi dan kemampuan kelompok. Mampu merancang dan mengimplementasikan kegiatan dalam menunjang pembangunan Hutan Desa. Memahami dan mempraktikan teknik Koordinasi dan negosiasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pengembangan pembangunan Hutan Desa dan Kelompok perempuan  mampu mengakses berbagai bantuan dari luar guna menunjang pembangunan Hutan Desa.(**)
 
Sumber : Pontianak Post

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.