Perempuan TembawangSAMPAN—Pontianak (15/12/2015) Perempuan adalah sektor terpenting dalam percaturan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Tanpa perempuan mungkin banyak masalah yang muncul, contohnya tidak ada yang mengurus rumah tangga dan banyak hal lainnya. Hingga saat ini banyak pula masalah yang dihadapi perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, beban kerja ganda, hingga polemik budaya patriarki masih menjadi persoalan utama. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi masalah yang dihadapi penting untuk adanya dorongan terhadap perempuan terlibat aktif dalam organisasi, politik, maupun budaya sehingga asas egaliter dalam siklus sosial di Indonesia berjalan dengan baik. Satu diantara perempuan yang perlu menjadi perhatian kususus adalah perempuan Kalbar ditengah maraknya investasi berbasis hutan dan lahan.

Perempuan merupakan aktor penting dalam keberlanjutan sistem pengelolaan sumber daya alam di Kalbar. Menelisik Kalimantan Barat dengan luasan 14.6 juta hektar sendiri sebagai wilayah yang luas serta SDA yang melimpah ruah merupakan harapan yang sangat baik bagi pemberdayaan ekonomi perempuan. Namun, banyaknya investasi berbasis hutan dan lahan memberikan dampak yang signifikan terhadap perempuan. Dengan demikian, penting untuk adanya partsipasi perempuan dalam advokasi TKHL di Kalimantan Barat.

Kalimantan Barat sendiri dindikasikan sudah dicekcoki dengan 14.3 juta ha investasi berbasis hutan dan lahan. Investasi berbasis hutan dan lahan tersebut terdiri dari: perkebunan kelapa sawit dengan 513 izin serta alokasi lahan sejumlah 5.5 juta ha, sektor pertambangan 622 izin dengan alokasi lahan sebesar 5.2 juta ha, sektor HTI sebanyak 52 izin dengan alokasi lahan sebanyak 2.4 juta ha, dan HPH dengan izin sebanyak izin serta alokasi lahan sebanyak 1.2 juta ha. (Sumber: Hasil Analisis SAMPAN 2015).

Hal tersebut sudah tentu akan berdampak pada perempuan. Pertama, contoh yang bisa dilihat adalah akses terhadap Sumber Daya Alam (SDA), perempuan yang pada dasarnya selalu memiliki kedekatan dengan akses air bersih, ketika hutan maupun lahannya sudah beralih penguasaan akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses air. Contoh lain, yaitu kesulitan kebutuhan pokok, khususnya sayur mayur. Selain itu, ketika kerusakan hutan dan lahan terjadi akan muncul bencana alam seperti banjir dan kekeringan sehingga rentan terhadap reproduksi perempuan.

Maka dari itu, partisipasi perempuan harus diintensifkan lagi dalam menjaga dan mengelola SDA yang ada dari masifnya keberadaan investasi berbasis hutan lahan. Solusinya yaitu dengan mengorganisasikan perempuan sebagai fungsi kontrol dalam meninjau pengelolaan SDA dalam antisipasinya terhadap investasi berbasis hutan dan lahan. (OS/DP).

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.