13043592_10208365040099567_3729161826774791882_nSAMPAN, KUBU RAYA – Wahana Tanpa Awak (WTA) atau drone terbang rendah di atas areal Desa Dabung, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Senin (2/5/2016). Seorang pilot mengendalikannya dari jarak jauh. Drone terbang memantau area, mengidentifikasi secara detail kawasan desa.

Adalah sejumlah aktivis Sampan Kalimantan yang tengah melakukan perencanaan desa. Mereka turun ke desa untuk menyelamatkan lingkungan atau kawasan hutan lindung dengan tetap melindungi aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Aktivis Sampan Kalimantan, Benny mengungkapkan, pihaknya turun ke Desa Dabung untuk memfasilitasi penyelesaian tapal batas desa dan penyusunan rencana tata ruang desa. Ada beberapa tahap dalam fasilitasi itu.

“Tahap pertama yaitu penyusunan rencana kegiatan dan rapat-rapat desa. Kemudian pembentukan tim tapal batas dan tim perencanaan desa. Selanjutnya survei pengambilan data lapangan,” kata Benny.

Survei pengambilan data, lanjut Benny, menggunakan dua cara. Pertama, survei darat dengan berjalan kaki untuk melihat batas-batas desa secara lebih jelas, terutama dengan desa-desa tetangga. Kedua, tracking atau memantau kondisi lapangan dari jarak jauh dengan menggunakan satelit GPS.

“Survei itu lantas diperkuat dengan menggunakan WTA/drone. Penggunaan WTA untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang wilayah desanya. WTA lebih memungkinkan view (pandangan) desa lebih luas lantaran disorot dari udara,” jelas Benny.

Benny mengungkapkan bahwa perencaaaan desa dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan desa yang cukup pelik, seperti ihwal tapal batas desa dengan desa-desa lain.

Tapal batas desa merupakan soal administrasi dan kewenangan desa untuk mengatur wilayah desanya. Khusus di desa-desa pesisir kubu, batas desa tidak membatasi hak orang dari luar desa untuk beraktivitas pertanian maupun usaha ekonomi lainnya.

“Lazim ditemukan peladang dalam satu hamparan areal perladangan berasal dari desa-desa lain, bahkan banyak juga yangg berasal dari daerah lain. Atau lazim ditemukan orang yang mencari kepiting hutan bakau Desa Dabung berasal dari desa atau kecamatan lain,” terang Benny.

Ihwal tapal batas desa selanjutnya jadi problematik, bahkan dapat memicu konflik seiring dengan masuknya investasi dan tanah yang bernilai ekonomis.

“Nah, persoalan batas desa jika tidak ada road map pemerintah yang jelas, maka dapat menjadi bom waktu yang setiap saat dapat meledak. Apalagi setelah adanya kebijakan tentang dana desa yang mengalokasikan dana besar untuk desa,” ungkap Benny.

Tak hanya itu, perencanaan desa dibuat untuk memperjelas atau mengatur ihwal penggunaan lahan. Pasalnya, masyarakat setempat beraktivitas dalam kawasan hutan lindung, seperti berladang, membuat tambak yang sudah berumur puluhan tahun. Bahkan permukiman mereka berada di kawasan hutan lindung.

“Nah, mereka tidak bisa leluasa menjalankan usahanya. Dari perencanaan desa inilah nanti akan diidentifikasi terhadap penggunaan, pemanfaatan dan penguasaan tanah sesaui dengan peraturan bersama 4 menteri tentang IP4T (Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah) dalam kawasan hutan,” jelas Benny.

Taman Wisata Mangrove

Benny berharap luas Desa Dabung yang kurang lebih 14 ribu hektare terselamatkan lingkungannya. Sebagaimana visi Sampan Kalimantan, perencanaan desa dilakukan untuk peningkatan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan konservasi.

“Makanya kita menginginkan penyelamatan lingkungan sebagaimana fungsinya dan tidak menghilangkan hak-hak masyarakat sekaligus,” kata Benny.

Benny menambahkan, terkait hak-hak masyarakat yang sudah ada seperti budidaya peternakan, perikanan, perkebunan, termasuk juga permukiman yang masuk dalam kawasan hutan lindung, dapat saja dilepaskan dari areal hutan lindung.

“Masyarakat Desa Dabung tidak tamak dan tidak anti pada hutan lindung. Mereka meminta permukiman dan lokasi budidaya mereka dilepaskan dari kawasan hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya,” kata Benny.

Menurut Benny, masyarakat sadar bahwa eksistensi hutan lindung yang mayoritas berupa hutan berupa hutan mangrove/bakau penting untuk menjaga alam agar kehidupan masyarakat dan makhluk hidup lainnya terus berlangsung.

“Mereka cukup partisipatif. Bahkan, karena hutan mangrove di Desa Dabung sangat bagus dan lebat, hendak mereka jadikan Taman Wisata Mangrove yang termuat dalam rencana tata ruang desa,” pungkas Benny. (suarapemredkalbar)

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.