Berdayakan Potensi Hutan Desa

SUNGAI RAYA – Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus mengatakan pembangunan pembenihan kepiting bakau budidaya di hutan desa Bentang Pesisir Padang Tikar, Kubu Raya, merupakan tindak lanjut setelah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup menetapkan Hutan Desa Bentang Pesisir Padang Tikar. Adanya penetapan tersebat, maka setiap pemangku kepentingan terkait akan dapat memanfaatkan berbagai potensi yang ada di hutan desa ini.

“Selain konservasi, salah satu tujuan dari hutan desa ini yakni memicu peningkatan ekonomi masyarakat. Bagaimana masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan desa mempunyai alternatif dalam meningkatkan pendapatan dari potensi alam yang ada di hutan,” kata Hermanus saat meninjau lokasi pembangunan keramba kepiting di Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Rabu (23/1)

Melihat cukup beragamnya kekayaan alam yang ada di Kubu Raya, membuat Hermanus menegaskan berbagai potensi alam termasuk di hutan desa harus dimanfaatkan dengan optimal. “Jadi masyarakat tidak sekedar bertugas turut menjaga dan melestarikan hutan, namun juga mendapatkan peluang untuk memanfaatkan ragam potensi yang terdapat di lingkungan pemukimannya sendiri.  Dengan begitu kesejahteraan warga dapat meningkat,” ucapnya.

Pembangunan keramba kepiting di Desa Batu Ampar ini akan dengan dibangun dengan pinjaman lunak dari Badan Layanan Umum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLU KLHK).

“Saya melihat, selain di Desa Batu Ampar, keramba kepiting juga akan dibangun di Desa Seruat II dan Teluk Nibung. Namun sementara yang akan direalisasikan yakni di Batu Ampar dan Seruat II,” jelas Hermanus.

Direktur Sampan Kalimantan Barat, Dede Purwansyah menambahkan pihaknya telah mengusulkan status hutan desa kepada pemerintah pusat sejak tahun 2014. Luasan yang diusulkan mencapai 76.370 hektar yang mencakup 10 desa di Bentang Pesisir Padang Tikar.  Di tahun 2017 izin hutan desa terbit untuk 10 desa tersebut. Terluas di Batu Ampar mencapai 33 ribu hektare hutan desa. “Dari total luas tersebut ekosistimnya bervariasi. Mulai dari mangrove, gambut, dan hutan mineral,” ucap Dede.

Untuk meningkatkan perekonomian warga, Dede mengatakan sejak 2016-2017 pihaknya membangun cukup banyak demplot atau percontohan ekonomi yang tersebar di 10 desa. Dari sekian banyak demplot, yang tampak menguntungkan dalam aspek bisnis adalah kepiting.

Dengan melihat prospek usaha, pasar, dan teknologi, pada tahun 2017 pihaknya mengusulkan investasi pinjaman ke BLU KLHK Jakarta. Total usulan mencapai Rp70 miliar.

“Untuk tahap pertama sebanyak Rp17 miliar sudah dicairkan oleh BLU. Termasuk di antaranya untuk usaha kepiting dan madu. Khusus kepiting untuk tahap 1 siklus 1 total masyarakat penerima sebanyak 103 orang. Targetnya adalah satu orang punya empat keramba. Jadi total yang akan dibangun sekitar 400 keramba,” tuturnya.

Dede menyatakan 400 keramba yang akan dibangun di hutan desa akan berskala bisnis dengan aspek produksi tinggi. Ia menyebut target produksi untuk tahap 1 siklus 1 sekitar 30 ton perbulan khusus di Batu Ampar. Jika telah produksi, maka BLU akan kembali melakukan pencairan tahap selanjutnya hingga empat tahap dengan total pinjaman Rp161 juta perorang. Pencairan tahap pertama sebesar Rp 40 juta.

“Dengan skala produksi yang sekian besar maka kebutuhan bibitnya menjadi tinggi sekali. Makanya kita menggandeng Balai Benih Jepara untuk membangun di sini. Kunjungan ini sendiri dalam rangka memperlihatkan kepada tim dari Balai dimana calon lokasi yang cocok untuk pembangunan. Karena memang salah satu syarat yang penting adalah tingkat keasinan air,” tutupnya. (ash)

Sumber Pontianak Post

 

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.