KAPUAS HULU-SAMPAN-SAMPAN Kalimantan memberikan pelatihan penggunaan alat GPS bagi perwakilan warga Desa Nanga Dua, Kecamatan Bunut Hulu, Kapuas Hulu (28/1). Tujuan dari kegiatan tersebut guna memudahkan warga setempat dalam pemetaan desanya.

Tampak Peserta sedang mempraktekkan penggunaan GPS untuk pemetaan Desa. SAMPAN 2017

Tampak Peserta sedang mempraktekkan penggunaan GPS untuk pemetaan Desa. SAMPAN 2017

“Kegiatan ini sering kami lakukan terutama bagi desa di luar program. Lagipun ini sudah jadi komitmen kita untuk mengasistensi desa. Pelatihan seperti ini biasanya kita lakukan apabila ada desa yang meminta kita untuk membantu melatih mengoperasionalkan GPS,” ujar aktivis SAMPAN Kalimantan, Vian.

Pelatihan GPS kali ini merupakan kemauan pihak Desa Nanga Dua. SAMPAN memfasilitasinya. Sebelum desa ini, pihaknya juga memberi pelatihan penggunaan GPS pada perwakilan dari Desa Melapi dan Nanga Nyabau.

Dia berharap dari pelatihan ini, ke depan warga desa mengerti menggunakan GPS. GPS sendiri kata dia merupakan salah satu alat penunjang untuk melakukan pemetaan batas batas desa.

Selain bisa digunakan untuk pemetaan, GPS juga bisa digunakan untuk pembuatan SKT. “Masyarakat bisa mengukur luasan tanah tanpa menggunakan cara manual lagi,” katanya.

Lebih dalam, Alumni Fisipol itu menjelaskan, GPS itu sebagai alat pengambilan koordinat, tracking, navigasi, sistem informasi geografis dan dapat melacak posisi suatu tenpat. “Alat ini sangat membantu dalam pembuatan peda admin desa,” katanya lagi.

Belakangan ini warga desa khusunya dampingan SAMPAN sangat antusias untuk berlatih GPS. Hal ini dikarenakan desa dituntut oleh Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) untuk segera menyelesaikan batas desa dan peta administrasi desa mereka. Apabila tidak melakukannya desa yang belum terancam pemotongan dana desa sebesar 25%. “Hal ini dilakukan agar pemerintah desa serius mengerjakan dan menyelesaikan persoalan ini, karena persoalan batas desa dan peta desa sudah terjadi sejak lama,” ungkapnya.

Dalam hal ini tentu ada kendala yang ditemui. Salah satunya daya tangkap warga desa dalam mengoperasikan alat ini. Itu dikarenakan sebagian masyarakat di sini masih awam dengan alat seperti ini.

“Saya berharap setelah pelatihan ini masyarakat cepat bergerak melakukan pemetaan batas administrasi desa mereka, sehingga petanya cepa

t selesai dan mendapatkan PERBUB,” tutupnya.(ma)

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.